Dilan 1990: Sebuah wahana mesin waktu

Bismillahirohmanirrohim.

Assalamualaikum, jangan?.

Hmm.., kalau melihat posting saya yang terakhir itu sudah lebih 1 tahun yang lalu (lah?). Semoga postingan baru setelah masa hibernasi ini adalah sebuah awal dari produktivitas yang baru. (sipp!).

Ok, walau jelas tidak akademis, saya mau bahas sebuah film yang lagi hype sekarang, yaitu Dilan 1990. Ya, sekarang lagi hype, entah nanti saat kalian baca tulisan ini, mungkin sudah basi. Tapi tak pa lah, saat ini hasrat untuk menulis sedang menggelora didada, dan ini bisa jadi sebagai ajang pemanasan saya buat lanjut nulis paper yang tertunda haha. (Lanjott, bang)

FILM-DILAN-1990-001

Kok Dilan sih, kan film nya ABG?. Ya gak papa lah sekali-kali bagi Oom-oom beranak dua seperti saya ini, toh settingnya juga tahun 1990. Waktu itu jelas saya masih lucu-lucunya, dan mungkin sebagian dari anda belum lahir (pastinya). Dan tentunya ada alasan khusus saya review di blog ini yang semestinya ditujukan untuk tulisan-tulisan yang berbau akademis. Ok, siap?. sip, lanjut…

Saya tidak akan membahas film ini dari sisi cerita, soalnya sudah dibahas secara apik dan ciamik oleh kak Teppy, silakan klik disini kalau belum baca (awas spoiler!). Belum baca?, bacalah walau hanya satu paragraf. Saya saja ngakak bacanya, dan kak Teppy mudah-mudahan akun pahalanya bertambah banyak karena sudah bikin banyak orang bahagia. (amiin)

Lanjut,…

Akhirnya sempat juga nonton Dilan 1990. Jadi hari itu saya nonton bersama istri, seperti pacaran aja soalnya kita ketemuan di bioskop, bukan pergi barengan ke bioskop. Karena saya baru pulang kerja, dia juga, kalo mau jemput bolak-balik pasti kelamaan kasian sama yang jaga krucils dirumah. Ini yang disebut efektif dan efisien. Ya, begitulah adik-adik kalo sudah berumah tangga, nanti juga merasakan  :D

Kembali ke soal Dilan 1990, Film ini diperankan oleh Iqbal dan Vanesha. Skip dulu Iqbal, dik Vanesha ini cantiknya subhanallah, paling tidak itu respon yang saya kumpulkan dari para host dalam beberapa kali dia ikut acara talkshow (cek aja youtube yang dia jadi bintang tamunya).  Sebagai oom-oom yang juga memiliki anak gadis, saya berharap anak saya bisa secantik dia (mohon di-amin-kan). Nah, saat anak saya nanti seumuran dia sekarang, dik Vanesha ini akan seumuran dengan saya sekarang. Masih cantik?, masih lah Insyaallah. Pada saat itu tiba, saya pikir dia akan seumuran dengan Dian Sastro sekarang, walau sudah punya anak dua namun tetap mempesona.

59155740c44b6-vanesha-prescilla_663_382

Ok, ke Iqbal. Terus terang saya dulu tidak terlalu suka sama dik Iqbal ini, yha namanya juga selera ya. Seperti halnya saya suka Nirvana, bagi yang tidak suka kan seleranya dia. Secara teori perilaku konsumen dari Fishbein-Ajzen, juga tidak dijelaskan mengapa orang menjadi tidak suka, asal dia sudah bersikap tidak suka maka semua yang berkaitan dengan objek tersebut dia menjadi tidak suka. Nah, seiring waktu waktu liat trailer film ini saya kok mulai suka ya sama dia. Ini persis seperti rasa tidak suka saya ke David Beckham. Dulu saya tidak suka sekali dengan Beckham, namun seiring waktu doi memperbaiki temperamen dan perilakunya-nya (apalagi setelah ditunjuk jadi kapten tim Inggris) saya kok mulai suka.

Ya begitulah, tiada yang abadi… skip…

Bagi saya menonton Dilan seperti memasuki mesin waktu, era kejayaan kami dulu (kami?, iya biar ngajak-ngajak temen2 lain yang seumuran). dan saya setuju seperti kata kak Teppy, di quote aja ya:

Dilan-Milea ini tuh manisnya sederhana tapi bikin pengen luber sampe ke lantai gitu. The type of love that is just so innocent and pure. Kalo kata temen gue: kayak lagi ngeliatin dua anak kucing main, ya.

Yes, saya setuju. Pure and Innocent. Paling tidak bisa kita lihat dari video ini, liat khemistri diantara mereka. yak, terlepas itu gimmick atau bukan tapi kayak ngeliat dua anak kucing main ya?. Kalo di sepakbola itu ada Ronaldinho, pas liat dia main itu seperti liat anak-anak main bola sore-sore dipinggir jalan, begitu bahagia. Persis!.

Nah ini Ronaldinho

Ok, cukup tentang filmnya ya… sekarang saya mau bahas dari aspek yang lain nih. Sip.. ada 2 (dua) poin sih yang pengen saya sampaikan: yaitu tentang perkembangan TI dan Universe dunia remaja 90an. Pertama nih ya, sebagai pengajar di matkul sistem informasi manajemen, ada beberapa hal menarik yang dapat diamati. Seperti tentang adegan telpon-menelpon. di adegan ini sudah seharusnya adik-adik sekalian bersyukur dilahirkan pada era setelah hp merajalela.

Iya, iya, sebagai mahluk yang dibesarkan diera 90-an, menonton adegan nelpon di film ini berasa masuk ke mesin waktu.

Dulu, belum ada hape jadi kalau mau nelpon itu ke telpon umum mesti nyiapin receh, ya tergantung durasi nelpon yang diinginkan, itu juga kalau telpon umumnya tidak dipake gantian. Dan itu juga kalo orang yang kita tuju punya telpon rumah, soalnya telpon rumah jaman itu adalah barang mewah (haha). Dan makanya saya bilang, kalo novel ini dilanjutkan sampai ke Dilan 1995, maka adegan nelponnya mungkin bakal ganti ke telpon kartu, iya kartu. dulu nelpon pake kartu telpon, yang kalo sudah dipake kartunya dibolongin. Ya, mudah-mudahan adik-adik sekalian masih merasakan menggunakan alat ini.

555f91790423bd50208b4567

38143-telp-kartu

Era tersebut kemudian beralih ke era wartel, dimana wartel adalah telepon umum+kenyamanan+privasi. Karena udah disiapin bilik-bilik untuk nelpon, nanti kalo sudah tinggal bayar tergantung pemakaian. Tapi kayaknya era ini masih ada kali  ya artefaknya, walau kadang sudah berganti ke jual air galon :D. Nah jadi, pada zaman pra-Nokia emang gitu, mau nelpon ya harus ada effort-nya dulu. Dan poin pentingnya adalah dulu orang sangat menghargai janji ketemuan, misalnya nih janji jam 1 ketemuan di Gramed, pasti ketemu walau belum ada hape. Sekarang hape sering disalah gunakan sebagai excuse kalo dateng telat (iya, iya saya juga kadang jadi pelaku. hehe)

Maka bersyukurlah, Alhamdulillah.

Kedua, saya mau ngomongin tentang Universe dunia remaja 90-an. Kan diceritakan bahwa Dilan ini berseting tahun 1990, pada saat itu ada juga cerita remaja yang sangat populer, yaitu: Lupus, Olga dan Mas Boy. Iya, kalau belum tau silakan googling dulu. Saya berimajinasi, mungkin gak ya terjadi crossover diantara mereka?, kayak Avenger-nya Marvel atau Justice League-nya DC. Lah, secara kan Lupus dkk sering main ke Bandung, atau bisa pada momen rombongan Dilan pergi ke TVRI coba kalo ketemu dengan Lupus, Olga atau Mas Boy.

Ibarat Avenger, di Lupus akan ada: Lupus, Boim, Gusur,.. dll,

di Olga bakal ada: Olga, Wina, Somad,.. dll.

di Mas Boy bakal ada: Mas Boy dan Emon

Bayangkan, betapa dashyatnya?!!

Bahkan nih ya, cerita Olga itu pernah dibuat sinetron pada tahun 2000-an, ada dua versi sih: “Olga dan Sepatu Roda” serta “Olgamania”. Nah yang yang Olgamania ini diperankan oleh Sissy Priscillia, kakaknya Vanesha (kebetulan!), trus apa hubungannya?, belum tau juga sih, kebetulan saja (haha). Sayang itu dokumentasi sinetronya tidak ada di google, keren sih kalo ada. (Yha!)

Intinya!.

Iya semoga ada banyak oom-oom atau tante-tante seusia saya (atau mungkin diatasnya) yang menginginkan hal tersebut terwujud, semoga (amiin). Soalnya ya, mungkin ini klaim sepihak, tapi kami percaya tahun 90an adalah masa yang paling keren, malah ada yang bilang “musik itu berhenti di era 90an, selanjutnya adalah pengulangan”. Entah, quote siapa, terimakasih padanya.

Yang pasti pada tahun segitu mama masih ada dan sehat, sekarang saya hanya bisa kirim Al-Fatihah sebagai bagian dari kewajiban anak shaleh. Mama, berbahagialah disana :) (curcol:mode)

Kesimpulan?, perlu gak nih ada kesimpulan?.

Yha, intinya. bersyukur saja,..ada saat nya kita bersama, ada saatnya kita berpisah, ada kalanya sesuatu perlu dikenang, ada yang diambil pelajarannya.

seperti quote random dari Dilan ini:

maxresdefault.2jpg

(terus…?), terus silakan ditambahkan, soalnya waktunya sudah mepet ini., haha. Minimal otak saya sudah mulai panas buat nulis paper yang tertunda, semoga juga dapat selesai segera (amin).

Terakhir.

Terimakasih sudah baca, jika ada manfaat yang bisa diambil silahkan, jika tidak lewatkan. Sekarang saya mau lanjut nulis paper, mungkin hasilnya akan diposting di cerita selanjutnya.

Palembang, 7 Februari 2018.

Regards,
-Eko Fitrianto-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s